Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Ditulis oleh: Mita Zoe
The world is a dangerous place, not because of those who do evil, but because of those who look on and do nothing.” Albert Einstein
Berita mengenai bencana alam kian mewarnai pemberitaan di hampir semua media elektronik dan cetak. Sebut saja banjir, tsunami, kekeringan, badai tropis yang melanda beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Seringkali timbul kesalahpahaman, bencana alam hanya dianggap sebagai bagian dari kehidupan. Padahal banyak ahli yang mensinyalir bencana tersebut akibat pemanasan global yang tidak diperdulikan. Untuk itu, anak perlu diasah agar menjadi generasi yang peka terhadap isu lingkungan.
Berikut seulas cerita seputar pemanasan global dari WALHI, meningkatnya suhu bumi akibat akumulasi gas-gas rumah berbasis karbon, seperti karbondioksida, metan, dan hidrofluorocarbon, mendorong terjadinya perubahan iklim. Mencairnya es di pegunungan salju abadi dan Himalaya, Andes, Jayawijaya, dan Patagonia, serta Kutub Utara dan Selatan adalah indikasi meningkatnya suhu bumi. Selain itu, perubahan suhu bumi juga terjadi di lautan yang mengakibatkan berubahnya siklus dan kejadian cuaca, disebut sebagai perubahan iklim.
Pemanasan global dan perubahan iklim berdampak pada naiknya temperatur udara mencapai 1,5-4,5 derajat celcius dan merubah permukaan bumi secara radikal sehingga mempengaruhi kesehatan dan keamanan manusia. Kenaikan suhu permukaan bumi sebesar satu derajat celcius akan menaikkan permukaan laut setinggi 15 centimeter yang akan menenggelamkan kawasan pesisir. Selain itu, juga terjadi perubahan musim dan musnahnya berbagai jenis flora dan fauna.
Kompleksnya persoalan lingkungan hidup dari masa ke masa, mengharuskan tiap manusia sadar akan perbuatannya. Pasalnya, ulah manusia yang memperlakukan alam secara berlebihan, menjadikan kondisinya makin tidak ramah. Kini, fakta kerusakan lingkungan hidup, seperti kerusakan hutan, makin menipisnya persediaan air, pemanasan global, menumpuknya sampah, dan sebagainya, sudah menjadi kewajaran.
Bayangkan, akibat pemanasan global diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut. Dengan memerhatikan pentingnya menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup, sebuah keluarga akan menyumbang sesuatu untuk bumi tercinta dan mendapatkan manfaatnya,
1.Meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar rumah, juga kualitas lingkungan hidup planet bumi.
2.Kondisi kehidupan keluarga lebih nyaman dan kondusif bagi perkembangan anak-anak.
3.Kesehatan keluarga dan anak-anak lebih terjaga.
4.Dengan mengurangi, mendaur ulang, mengganti, dan menghemat penggunaan sumber daya alam dan energi bagi kehidupan keluarga, keuangan keluarga lebih mudah diatur dan dihemat.
5.Terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan, salah satunya bau busuk sampah yang tak terurus.
Anak Peka Isu Lingkungan
Bumi serta sumber daya di dalamnya membutuhkan konsistensi manusia untuk menjaga serta melestarikannya. Karenanya, diperlukan keterlibatan segenap komponen masyarakat untuk mengatasinya, tak terkecuali anak-anak. Anak merupakan generasi penerus yang mewariskan keberlangsungan bumi,namun seringkali anak tidak ramah terhadap lingkungannya. Untuk itu, orangtua perlu mendidik anak sedini mungkin agar ‘melek’ lingkungan. Dengan harapan, bumi tetaplah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.
Menurut Abdul Halim selaku pelaksana tugas relasi media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), tanamkan hakekat alam terlebih dulu sebelum orangtua mendorong kecintaan anak terhadap lingkungan. Anak memahami, bumi beserta isinya merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan YME, yang diberikan kepada manusia agar dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pendukung kehidupan. Agar manfaatnya maksimal maka alam harus dijaga dan dipelihara.
Kerusakan alam akibat ulah manusia akan menimbulkan dampak yang merugikan.Jika hal ini tertanam dalam pola pikir anak, maka orangtua akan lebih mudah memberi teladan. Misalnya, orangtua senantiasa membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. “Mendidik anak terkait dengan memerdekakan akal budi dari ketidaktahuan, termasuk memberi jalan agar anak lebih beradab dalam memperlakukan lingkungan hidupnya,” kata Abdul.
Begitupun pendapat Novi Hardian Ssi, Kepala Sekolah Alam Ciganjur, sikap kecintaan lingkungan anak merupakan hasil proses pendidikan yg dialaminya, baik dari sekolah maupun orang tua. Umumnya, anak menghabiskan 2/3 hari di rumah. Maka pengaruh terbesar bersumber dari pendidikan di rumah. Pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan dari orang tua.
Untuk itu, biasakan pola hidup yang bersih, sehat dan ramah lingkungan dalam keluarga. Tanamkan pula, menjaga alam merupakan bagian dari ibadah, yang memberi manfaat bagi peningkatan kualitas hidup. Anak belajar dengan meniru dan mencontoh. Jadi, kalau orang tua melek lingkungan, anak pun akan terpengaruhi.”Dimulai dari meniru, membiasakan, berkarakter hingga menjadi budaya,khususnya budaya cinta lingkungan,” ujar Novi.
Mengapa perlu sedini mungkin? Alasannya, pendidikan usia dini merupakan dasar bagi pembentukan karakter anak. Mengajarkan cinta lingkungan juga akan menumbuhkan sikap bersyukur. Umumnya, anak yang mencintai alam cenderung berhati lembut dan juga mengasihi sesamanya. ”Perkenalkan tugas menjaga lingkungan pada anak melalui pembiasaan hidup yang ramah dan cinta lingkungan sedini mungkin. Ingat action speaks loader than words,” ujar Novi.
Abdul menambahkan, anak juga perlu dibekali pengetahuan seputar lingkungan. Pemberian pengetahuan lingkungan hidup berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan positif orangtua. Contohnya, mengapa harus menghemat penggunaan air? Gunakan jawaban sederhana. Misalnya, air adalah kebutuhan pokok manusia. Sementara itu, populasi manusia semakin meningkat dan banyaknya daerah resapan air tanah yang dibangun menjadi permukiman, hotel, dan perkantoran, mengakibatkan persediaan air makin berkurang. Untuk itu, air perlu digunakan sehemat mungkin.
Pembekalan pengetahuan juga bisa anak dapatkan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Orang tua dapat mengajak anak untuk mengikuti pramuka, karya ilmiah remaja, Palang Merah Remaja (PMR), pecinta alam, dokter kecil, majalah dinding, dan lain-lain. Selain itu, lingkungan masyarakat juga mempengaruhi sikap anak terhadap lingkungannya.
Untuk itu, diperlukan pengawasan orang tua agar pendidikan lingkungan hidup dapat dipraktikkan dalam keseharian anak. Jika mungkin, dengan membentuk sistem pelestarian di daerah tinggal, anak dapat berperan langsung menjaga keberlangsungan lingkungannya. “Ilmu tanpa praktek, tak memberi bekas pada pemahaman anak. Begitupun dengan pemahaman seputar lingkungan, perlu didukung oleh keterlibatan anak secara aktif,” ujar Abdul.
Ditambah lagi, lanjut Novi, orangtua bisa membuka diskusi mengenai lingkungan. Sehingga, anak mengetahui perkembangan kondisi bumi sekarang ini. Hal ini terkait dengan penyebab, perilaku masyarakat yang berakibat pada masalah global lingkungan. Sehingga anak bisa mengetahui informasi umum seputar isu global. Berikan penjelasan sesuai kemampuan pemahaman anak. Sebaiknya gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak.
FAKTA !
Indonesia menjadi negara kandidat untuk masuk Buku Rekor Dunia (Guinness edisi 2008) sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat diantara 44 negara yang memiliki 90 persen sisa hutan dunia.
Diperkirakan 72 hektar lahan Jakarta akan tenggelam pada tahun 2030. Penelitian ini juga dikuatkan melalui penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2007 yang menyebutkan daerah-daerah di Jakarta, sebagian Jawa Barat dan Banten merupakan kawasan yang akan tenggelam pada tahun 2050 nanti.
Sumber: Majalah Inspired Kids
0 comments:
Poskan Komentar